KASTRAD SESSION
Wanita Pada Setiap Masa

Wanita Pada Setiap Masa

A. Isu dan Kejolak Perjuangan

1. Perjuangan

Keterbatasan partisipasi perempuan dan akses terhadap hak warga negara yang berbeda antara kaum laki-laki dengan perempuan menimbulkan sebuah gerakan yang menginginkan kesetaraan.

Lalu muncullah pada sekitar awal abad ke-18 gerakan perjuangan wanita yang biasa disebut feminise. Gerakan Feminisme dapat diartikan sebagai pengakuan terhadap adanya ketidakseimbangan antara dua jenis kelamin, keyakinan bahwa kondisi wanita terbentuk secara sosial dan dapat diubah, serta penekanan pada otonomi wanita. Para perempuan yang tertarik pada ide baru ini kemudian mulai mendirikan perkumpulan dan organisasi yang menginginkan perkembangan kehidupan sosial, politik, dan ekonomi wanita.

Organisasi-organisasi perempuan mulai berkembang di daerah Eropa, Amerika Utara, Selandia Baru, dan Australia. Para perempuan ini menuangkan isi pikirannya dalam bentuk tulisan, seperti auto biografi dan memoir. Sejarah perjolakan dibagi menjadi beberapa gelombang. Gelombang pertama berlangsung pada 1860-1920, gelombang kedua berlangsung pada 1960-1970-an. Gelombang pertama yang berlangsung pada 1860-1920 ini terjadi salah satunya disebabkan karena masa abad pencerahan di Eropa sehingga mulai membuka pemikiran perempuan mengenai hakikat keberadaan mereka. Perjuangan gelombang pertama ditandai dengan terbitnya tulisan Mary Wollstonecraft, The Vindication of the Rights of Woman, yang menyerukan kesetaraan pendidikan perempuan. Fokus gelombang pertama adalah untuk melawan pandangan patriarkis, bahwa wanita adalah makhluk yang lebih lemah daripada laki-laki dan tidak rasional. Pada gelombang pertama juga memperjuangkan hak pilih untuk perempuan dan kedudukan politik, termasuk juga hak perempuan dalam pendidikan.

Pada masa gelombang kedua yang berlangsung pada 1960-1970-an ditandai dengan terbitnya The Feminine Mystique diikuti dengan berdirinya National Organization for Women (NOW) tahun 1966. Dengan lahirnya sebuah organisasi perempuan ini menandai adanya gerakan yang lebih terorganisir, dan kesadaran yang lebih luas mengenai perjuangan kesetaraan perempuan. Pada gelombang kedua ini mulai memandang feminisme dalam aspek yang lebih luas. Meskipun perempuan sudah memperoleh emansipasi secara hukum dan politis, perempuan masih merasakan diskriminasi, sehingga perempuan mulai memusatkan pada isu yang langsung bersentuhan dengan kehidupan perempuan. Fokusnya terletak pada pembebasan perempuan dalam skala yang lebih luas dan mulai menyinggung hak di tempat kerja, keluarga, dan hak-hak reproduksi.

Meskipun perjuangan kesetaraan perempuan dengan laki-laki sudah dimulai sejak lama, namun sampai sekarang perempuan masih mengalami diskriminasi. Meskipun tujuan awal feminisme sudah dicapai, yaitu keterlibatan dan hak dalam kegiatan politik, ekonomi, dan pendidikan, masih ada saja budaya patriarki yang memenjara perempuan. Penjara ini dibangun oleh budaya yang mengakar dalam masyarakat, juga pikiran perempuan sendiri yang menganggap dirinya tidak bebas. Karena terbiasa dengan perlakuan diskriminatif yang diakibatkan oleh budaya ini, jangan-jangan perempuan memandang diri mereka sebagaimana patriarki memandang diri mereka.

2. Tingkat diskriminasi yang dialami perempuan di Indonesia

CATAHU (Catatan Tahunan) 2022 mencatat dinamika pengaduan langsung ke Komnas Perempuan, lembaga layanan dan Badilag. Terkumpul sebanyak 338.496 kasus kekerasan berbasis gender (KBG) terhadap perempuan dengan rincian, pengaduan ke Komnas Perempuan 3.838 kasus, lembaga layanan 7.029 kasus, dan BADILAG 327.629 kasus.

Angka-angka ini menggambarkan peningkatan signifikan 50% KBG terhadap perempuan yaitu 338.496 kasus pada 2021 (dari 226.062 kasus pada 2020). Lonjakan tajam terjadi pada data BADILAG sebesar 52%, yakni 327.629 kasus (dari 215.694 pada 2020).

Data pengaduan ke Komnas Perempuan juga meningkat secara signifikan sebesar 80%, dari 2.134 kasus pada 2020 menjadi 3.838 kasus pada 2021. Sebaliknya, data dari lembaga layanan menurun 15%, terutama disebabkan sejumlah lembaga layanan sudah tidak beroperasi selama pandemi Covid-19, sistem pendokumentasian kasus yang belum memadai dan terbatasnya sumber daya.

Secara khusus, CATAHU 2022 merekam isu-isu khusus yang muncul dari kasus-kasus yang ditangani Komnas Perempuan. Di antaranya, pertama, KBG terhadap perempuan oleh pejabat publik, ASN, tenaga medis, anggota TNI, dan anggota Polri. Kekerasan berbasis gender terhadap perempuan yang dilakukan oleh kelompok yang seharusnya jadi pelindung, tauladan dan pihak yang dihormati ini sekitar 9% dari jumlah total pelaku.

Pejabat publik, aparatur sipil negara (ASN), tenaga medis, anggota TNI dan Anggota Polri menjadi sorotan karena memiliki kekhasan terkait kekuasaan berlapis baik kekuasaan patriarkis termasuk relasi kekeluargaan, ekonomi maupun kekuasaan jabatan dan pengaruh yang dimiliki oleh pelaku. Terjadi impunitas, korban tidak mendapatkan dukungan penyelesaian kasus pada sistem peradilan pidana, kebenaran kekerasan yang dialaminya disangkal yang mengakibatkan korban bungkam dan meminta mutasi ke kota lain.

B. Tokoh Perjuangan

1.Raden Ajeng Ayu Kartini Djojo Adhiningrat

Ia melihat perjuangan emansipasi perempuan yang dilakukan RA Kartini agar memperoleh kebebasan, otonomi, persamaan mendapatkan pendidikan dan pengajaran, serta persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.

2.Ruth Bader Ginsburg

adalah seorang pengacara dan ahli hukum Amerika Serikat yang pernah menjabat sebagai Hakim Agung dari Mahkamah Agung AS.  Ginsburg menghabiskan sebagian besar karier hukumnya sebagai advokat untuk memperjuangkan kesetaraan gender dan hak-hak perempuan, menghasilkan beberapa kali kemenangan dalam perjuangannya di hadapan Mahkamah Agung. Dia juga beradvokasi sebagai pengacara sukarela untuk American Civil Liberties Union, menjabat sebagai anggota dewan direksi dan salah satu penasihat umum pada 1970-an.

3. Raden Dwi Sartika

Dewi Sartika memiliki misi mulia dalam merintis pendidikan bagi perempuan, khususnya di tanah sunda. beliau juga merupakan salah satu pahlawan nasional yang dikukuhkan pada 1 Desember 1966 melalui keppres No. 252 Tahun 1966. Ia dianugerahi gelar Orde van Oranje-Nassau pada ulang tahun ke-35 Sekolah Kaoetamaan Isteri sebagai penghargaan atas jasanya dalam memperjuangkan pendidikan.

Daftar Pustaka

Komnas Perempuan. 2022. “Bayang-bayang Stagnansi: Daya Pencegahan dan Penanganan Berbanding Peningkatan Jumlah, Ragam dan Kompleksitas Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan”. https://komnasperempuan.go.id/siaran-pers-detail/peringatan-hari-perempuan-internasional-2022-dan-peluncuran-catatan-tahunan-tentang-kekerasan-berbasis-gender-terhadap-perempuan. Diakses 22 Juni 2022

Hmpsfis. 2019. “Feminisme: Sejarah, Kodrat, Hak yang dibela”. http://hmpsfis.student.uny.ac.id/2019/04/04/feminisme-sejarah-kodrat-hak-yang-dibela/. Diakses 21 Juni 2022

Faisal, Muhammad. 2018 “ Ruth Badas Ginsburg, Perempuan garang di pengadilan AS”. https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/ruth-badass-ginsburg-perempua.  Diakses 21 Juni 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *